Podcast CNBC: Banyuasin Genjot Ketahanan Pangan lewat OPLAH dan Perlindungan Lahan LP2B
Dalam podcast CNBC Indonesia (6/2/2026), Bupati Banyuasin Askolani memaparkan strategi ketahanan pangan melalui optimasi lahan (OPLAH), perlindungan lahan LP2B, serta peningkatan indeks pertanaman dan produktivitas untuk mengejar target produksi padi 1,2 juta ton.
Pemerintahan • Ketahanan Pangan • Kabupaten Banyuasin
Dalam podcast CNBC Indonesia (6/2/2026), Bupati Banyuasin Askolani memaparkan strategi ketahanan pangan melalui optimasi lahan (OPLAH), perlindungan lahan LP2B, serta peningkatan indeks pertanaman dan produktivitas untuk mengejar target produksi padi 1,2 juta ton.
JAKARTA — Bupati Banyuasin Askolani memaparkan arah strategi ketahanan pangan daerah dalam podcast CNBC Indonesia yang tayang Jumat (6/2/2026). Dalam kesempatan itu, Askolani menyebut Banyuasin mendorong peningkatan produksi padi melalui optimasi lahan (OPLAH), penguatan infrastruktur pertanian, serta perlindungan lahan pangan berkelanjutan (LP2B).
Dari lahan rawa ke sawah: fokus pada peningkatan kapasitas lahan
Askolani menjelaskan bahwa pemerintah daerah melakukan peningkatan kapasitas lahan dengan mengubah sebagian lahan rawa menjadi sawah, disertai pendampingan petani dan dukungan sarana produksi melalui perangkat daerah terkait.
Poin kunci yang disampaikan
- Target produksi: Banyuasin menargetkan produksi padi hingga 1,2 juta ton (sesuai yang disampaikan dalam podcast).
- LBS: potensi lahan pertanian (LBS) disebut seluas 189.345 hektar.
- LP2B: Pemkab mengacu pada Perbup Nomor 44 Tahun 2019 tentang LP2B dengan luas yang disebut 104.973 hektar.
- Strategi utama: meningkatkan indeks pertanaman (IP) dan produktivitas padi.
- HPP gabah: Askolani menyebut upaya menjaga harga gabah petani di atas HPP yang disampaikan sebesar Rp6.500/kg.
Dua “tuas” produksi: naikkan IP dan produktivitas
Menurut Askolani, peningkatan produksi dapat ditempuh lewat dua langkah: menaikkan porsi tanam dua kali (IP200) dan tanam tiga kali (IP300), serta meningkatkan produktivitas rata-rata dari 6,1 ton GKP/hektar menjadi 7,1 ton GKP/hektar dengan dukungan alsintan dan perbaikan tata air.
OPLAH dan kebutuhan infrastruktur: pintu air, tanggul, dan saluran
Askolani juga menyinggung peran program OPLAH dalam membantu petani, termasuk modernisasi pintu air, normalisasi saluran tersier, serta perbaikan/pembuatan tanggul. Ia berharap dukungan lanjutan dari pemerintah pusat, termasuk terkait normalisasi saluran sekunder yang disebut kewenangan kementerian teknis.
Hilirisasi padi: dorong nilai tambah petani
Di sisi hilir, Askolani menyampaikan bahwa pengolahan produk padi di Banyuasin masih banyak berskala rumah tangga dan petani cenderung menjual gabah. Pemkab, menurutnya, akan mendorong pertumbuhan industri olahan agar nilai tambah pendapatan petani meningkat.
Menjelang panen raya
Dalam podcast tersebut, Askolani juga menyebut rencana panen raya pada 11 Februari dengan produktivitas yang disampaikan mencapai 8 ton per hektar, serta koordinasi untuk menjaga serapan dan harga gabah petani.
Baca Juga
(Diskominfo.SP/IKP)
