Bedanya Berita, Press Release, dan Advertorial: Cara Membacanya dengan Kritis (Panduan Warga Banyuasin)
Tidak semua artikel di internet punya tujuan yang sama: ada berita, siaran pers, dan advertorial/sponsor. Dengan memahami ciri masing-masing, warga Banyuasin bisa membaca lebih kritis, menilai rujukan dengan adil, dan tidak mudah terbawa framing atau promosi yang disamarkan sebagai informasi.
Edukasi • Transparansi Konten • Banyuasin
Bedanya Berita, Press Release, dan Advertorial: Cara Membacanya dengan Kritis (Panduan Warga Banyuasin)
Di internet, tidak semua “artikel” punya tujuan yang sama. Ada yang murni berita, ada yang bersumber dari siaran pers, dan ada juga advertorial/sponsor. Memahami perbedaannya membantu warga Banyuasin membaca informasi dengan lebih kritis, tanpa mudah terbawa opini atau framing.
Tujuan artikel ini: memberi patokan cepat agar pembaca bisa mengenali jenis konten dan menilai informasinya dengan adil.
1) Berita (news): fokus pada fakta dan kepentingan publik
- Biasanya memuat konteks: apa, kapan, di mana, siapa, bagaimana.
- Mengutip narasumber/rujukan yang dapat ditelusuri.
- Berpotensi memuat pembaruan jika ada perkembangan.
2) Press release/siaran pers: informasi dari lembaga/perusahaan/instansi
- Sumber utama berasal dari pihak yang mengirim rilis.
- Nada penulisan cenderung formal dan menonjolkan kegiatan/agenda.
- Pembaca tetap perlu menilai: data apa yang disajikan, dan apa yang tidak disebutkan.
3) Advertorial/sponsored: konten kerja sama/promosi
- Tujuannya mengenalkan program/produk/jasa atau citra pihak tertentu.
- Nadanya lebih “mengajak” dan menonjolkan keunggulan.
- Idealnya diberi label transparan (mis. “Advertorial”, “Sponsored”, atau “Kerja Sama”).
Checklist cepat: cara mengenali jenis konten
- Lihat sumbernya: dari instansi/brand atau liputan lapangan?
- Lihat bahasa: informatif netral atau cenderung promosi?
- Lihat keseimbangan: ada konteks dan rujukan, atau satu sisi saja?
- Lihat label: apakah ada penanda “sponsored/advertorial” jika memang kerja sama?
Kenapa pembaca perlu tahu?
- Agar tidak menganggap promosi sebagai “fakta tunggal”.
- Agar bisa menilai kepentingan di balik sebuah tulisan.
- Agar diskusi warga lebih sehat: kritik berdasarkan data, bukan asumsi.
